Minggu, 31 Juli 2016

Teruntuk kamu, Fahrenheit-ku.

Dear Fahrenheit,

Hai! Apa kabar? Aku harap kamu baik. Aku tahu, kamu belum tentu membaca surat picisan seperti ini, tapi jika kamu membacanya, ini merupakan surat yang menggambarkan perasaanku. Jika kamu ingin tahu, ingatlah aku sebagai Renjana. Apakah kamu tahu apa itu Renjana? Renjana merupakan rindu, rindu yang aku rasakan selama ini. Tahukah kamu? Melihatmu, seperti aku jatuh cinta lagi dan lagi. Selalu seperti itu setiap harinya. Aku tahu aku tak pernah menjadi sempurna untuk mencintaimu, namun kesempurnaanku juga belum tentu dapat meruntukan pembatas di antara kita. Kita? Sedikit lucu mendengarnya. Namun, di antara kata 'kita' ada jarak, ada ruang hampa, dan kamu tidak pernah tahu jika aku mencintaimu dalam bisu.

Bagaikan mentari di atas rembulan
Bagaikan pelangi tanpa adanya hujan
Itu memang tak mungki bisa terjadi
Namun itu yang ku rasakan kini
Cinta... Cinta...

Mataku tak sanggup menatap matamu
Bibirku tak sanggup mengatakan itu
Jariku tak sanggup menuliskan kata cinta
Hatiku tak sanggup menahan getar di hati
Inikah cinta... 
Inikah cinta...
Inikah cinta...
Cinta pertamaku, pada dirimu.

Bait setiap bait ku tulis dengan tanganku. Memikirkan wajahmu dan senyumanmu. Setiap hari aku mencoba memetik gitarku, menciptakan sebuah alunan untukmu. Ya! Kamu merupakan cinta pertamaku, dan lagu pertamaku aku persembahkan untukmu. Jika suatu hari nanti kamu mendengar lirik itu, ketahuilah, aku bernyanyi untukmu.

Mungkin raut senyum bibir manismu yang dapat menyejukkan gairah sang mawar
Mungkin secercah sinar dari mata indahmu yang dapat menggantikan mentari menyinari Bumi
Mungkin lembut tutur katamu yang sanggup menggugah hati sang bidadari untuk turun menyapaku
Dan mungkin begitulah kehadiranmu mengguncang persinggahanku

Mungkin bait-baitku akan pergi meninggalkanmu
Layaknya desah nafas yang meninggalkan ragamu
Dan mungkin bersama mimpi akan kembali masuk menguak ke dalam mimpi

Dawaimu menghiasi jiwaku
Memperindah lengkung surgawi
Menumbuhkan mawar di jantung hati
Sampai saat angin menggerakkan jemari-jemariku untuk menggoreskan bait-bait ini 

Untuk kamu. Dirimu. Pada matamu yang lebih bercahaya dari semua puisi yang pernah ku baca. Fahrenheit, mungkin aku memang tak pernah pantas untukmu. Aku pun selalu berdoa kepada Tuhan, agar kau mendapat sesosok wanita yang sangat  baik dan pantas untukmu. Aku juga selalu berdoa untuk diriku, agar tabah melihat cintaku tak bersama hatiku. Akan tetapi, aku juga berdoa kepada Tuhan, jika kita di takdirkan bersama, maka pertemukanlah aku dan kamu di dalam ikatan yang suci. Sempurnakanlah  diriku agar pantas bersanding dengan dirimu. Namun, jika kau bisa membalas perasaanku, aku tahu kau tidak akan menuntut kesempurnaan diriku. Melainkan, kesempurnaan cinta yang kita rajut bersama. Tapi aku tak bisa memaksa kehendak-Nya, karena jodoh, maut, dan kehidupan hanya rahasia yang di atas.

Dan kali ini, dengan jatuhnya air mataku, aku meringis. Ini cinta yang tak terbalas. Walaupun aku tahu, bibir ini tak pernah mengatakan kata cinta, tak pernah mengucapkan kata manis, melainkan terkunci rapat dengan sejuta keinginan. Aku tak berani untuk berkata, mengucapkan segala keluh kesahku, mengucap namamu dengan suaraku. Aku pun tak berani untuk berada di dekatmu, karena aku tahu, aku tak pantas! Bahkan tak pernah pantas untukmu. Terkadang, aku selalu bertanya, apakah aku berani untuk mengucapkan kata cinta? Ah, tidak. Bertemu denganmu saja membuat hatiku sakit, membuat lidahku kelu, bahkan membuat tubuhku gemetar. Tapi jatuh cinta padamu, adalah hal yang semu. Beku. Tak dapat dipahami. Namun, memang itu tujuannya. Tak harus kamu pahami. Entah apa yang membuatku jatuh hati padamu, tapi yang ku tahu, hati ini sepenuhnya menjadi milikmu. Entah apakah kamu ingin menerimanya atau tidak. Kurasa tidak. Ada hati orang lain yang sudah kamu punya. Bagaimana nasib hatiku? Ah. Iya. Aku hanya bumi, tak langit sepertimu. Tak langit seperti dia. Lagi-lagi, aku menyadari perbedaan kita.

Yang ku tahu, kita berdua itu manusia. Sama sama punya hati. Yang ku tahu, hatiku jatuh padamu. Yang ku tahu, ini cinta tak terbalas. Fahrenheit, ini surat pertama yang aku kirimkan padamu. Aku rasa aku gagal mencintaimu secara diam-diam. Karena sekarang aku menyatakannya padamu. Tak apa. Lagi pula, kau tak akan membaca ini kan? :)

Aku menyukaimu. Biarlah ini menjadi urusanku. Bagaimana kamu kepadaku, itu urusanmu.

From your secret admirer, Renjana.


Ku tulis dengan tangan yang gemetar, dengan perasaan yang tak karuan. Semanis cintaku, dan sepahit kisahku. Kisah yang tak berani ku ungkapkan padamu. Seperti layaknya Caramel Macchiato.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar