Love in Pain
Cinta pertama memang adalah
hal yang paling menakjubkan di dunia, namun cinta pertama itu sulit
di miliki bahkan tidak akan pernah di miliki. Tapi
ada satu hal yang sangat luar biasa, cinta pertama adalah hal yang mengajarkan
kita hingga tau arti cinta sebenarnya.
***
Hari yang benar-benar tidakku harapkan ini telah datang. Membuat awal dari keceriaanku menjadi
punah. Tapi semua orang menunggu hari ini. Hari di mana mereka mengetahui hasil
dari kerja keras mereka selama setahun ini. Tapi aku benci hari ini. Itu pertanda bahwa kita akan
benar berpisah bukan? Kau akan pergi dan aku tetap di sini. Hal ini membuatku muak. Jujur aku sangat malas
berjalan dan melangkahkan kakiku menuju suatu tempat orang-orang pandai dalam hal bersandiwara.
Mereka hanya bisa mengancamku dalam
segala hal. Ini membuatku sakit, di hatiku, di tubuhku, di otakku, terasa
sakit tapi aku mencoba untuk mengalahkan rasa sakit ini. Aku berlari, berlari di bawah langit yang masih
terlihat gelap. Aku pergi bukan menuju sekolah, melainkan sebuah gang kecil. Duduk,
diam, menunggu, itulah yang biasa aku lakukan setiap berangkat sekolah. Maksudnya cuma satu, yaitu agar diriku menjadi orang
pertama yang dia lihat setiap hari. Karena gang kecil itu adalah jalan yang
biasa dia lalui untuk menuju sekolah. Ini konyol bukan? Tapi itulah cinta.
Cinta yang membuat seseorang melakukan hal-hal konyol, bodoh, jahat dan setiap
tindakan lainnya.
***
Namanya Aidan Alfarizi. Dia salah satu seniorku
sekaligus teman seangkatanku. Sekarang dia duduk di kelas XIIMipa1 dan akan segera melanjutkan sekolahnya di salah satu universitas terbaik di Jakarta. Tidak heran, kak Aidan
memang selalu unggul dalam hal apapun. Cerdas, tampan, pesona yang tak bisa di
tolak siapapun dan tentunya dia sangat baik kepada siapapun. Aku Azalea Meldiva, adik kelas sekaligus teman
seangkatannya yang selalu mengejarnya karena ia telah menyelamatkanku satu
kali. Satu kali yang sangat berharga di hidupku. Aku mencintainya, sejak
pertama bertemu. Tapi dia terlalu jauh, seperti bintang di langit yang sulit ku
gapai. Dan aku hanyalah sebuah pohon kecil yang belum berbunga, menunggu cahaya
dari bintangnya walaupun teramat sedikit. Ya! Cahaya bintang itu mengalahkan
banyaknya cahaya yang di pancarkan oleh bulan. Kau terlalu jauh kak... dan itu sangat sulit
sekali ku gapai.
Sedari tadi aku hanya duduk dan menunggu tapi kenapa ia tak
kunjung datang? Sudah setengah jam aku menunggu di sini. Apakah ia tak datang ke sekolah di hari pembagian
pengumuman kelulusan dan pembagian rapot ini? Atau karena ia sudah berangkat sejak dini hari tadi? Baiklah sekarang diriku menyerah. Sudah
ketujuh kalinya aku menyerah untuk menunggunya lebih lama lagi.
***
Kulangkahkan kakiku dengan perasaan pahit dan kecewa. Benar dugaanku mungkin keceriaannya hari
ini mulai punah. Aku mendapati awal yang buruk dan sekarang aku hanyalah seorang
pecundang yang begitu mudah menyerah. Langkahku terasa sangat. Dan aku pun mulai menyadari
bahwa ada orang yang berjalan juga tepat di belakangku. Aku berharap orang itu adalah kak Aidan. Lalu aku menengok ke arah belakangku dan memang benar-benar ternyata orang itu kak Aidan. Dia menggunakan
jaket bewarna abu-abu. Kakiku bergetar, bahagia, rasanya seperti terlahir kembali. Ingin sekali aku mengajaknya berbicara.
Tapi nyaliku
tidak cukup kuat untuk memulai percakapan dengannya. Aku menikmati detik-detik
itu, detik-detik ia tepat berada di belakangku. Tak kulewatkan sedikit pun. Hingga akhirnya
waktu terasa sangat cepat, aku sudah sampai di bangunan ini, sekolahku dan tentunya kak Aidan. Kita berpisah di sini,
ia berbelok ke kiri dan aku ke kanan, menuju kelas kita masing-masing. Sakitku tiba-tiba hilang
dengan sendirinya cinta mengobati dan menyembuhkan lukanya.
***
Di kelas aku di temani oleh sahabatku. Sebenarnya dia melebihi sahabatku, kuanggap dia sebagai adik kecilku. Salah seorang temanku memberitahu bahwa ini
hari terakhir aku akan melihatnya, aku harus memberinya sesuatu. Akhirnya aku bertanya kepada Audy, sahabat kecilku. Sahabat perjuanganku.
“Apa yang harus aku beri?”
“Sebuah coklat!” jawab Audy.
Tapi aku rasa tidak, tapi otak Audy yang brilliant itu menimbulkan sebuah ide yang cemerlang yang tak
pernah terpikirkan oleh diriku sebelumnya.
“Kamu harus mengungkapkan perasaanmu padanya Le” Audy tersenyum.
“Tapi aku ga siap Dy.” kataku ragu.
“Mau sampai kapan kamu ga siap Le?” katanya.
Aku engga siap, bukan karena aku tak memiliki apapun untuk di berikan padanya. Tapi karena aku merasa bahwa diriku tak layak baginya. Lagi
pula aku akan
mati di tempat jika aku saling berbicara dengan
kak Aidan.
***
Dia dan teman-temannya mungkin sedang di kantin sekarang, lalu aku dan Audy pun ikut ke
kantin. Benar sekali ia berada di kantin. Tapi aku tak berbicara sedikit pun padanya. Kami hanya
melakukan hal-hal konyol dan memalukan. Bodoh umpat diriku sendiri. Hanya
membuang-buang waktu tapi aku menikmati semua itu.
Aku kembali ke kelas. Di
kelas pengumuman kelulusan sekaligus pembagian rapot di mulai. Mendapatkan peringkat pertama pun diriku biasa saja dan tak
senang. NEM ku pun menjadi peringkat
tertinggi di Jakarta. 59.80, hanya salah satu di pelajaran Bahasa Indonesia. Sekarang di mulainya acara perpisahan untuk kelas XII.
Acara perpisahan ini di adakan dua kali, yang pertama khusus kelas XII dan yang
kedua untuk seluruh murid SMA ini. Dua
kali aku menghadiri acara perpisahan ini namun tak pernah membuatku tertarik
karena daya tarik kak Aidan jauh lebih kuat.
Menurutku melihat kak Aidan jauh lebih seru di banding
melihat acara itu. Tiba-tiba ada seseorang teman jahil yang mengejekku. Yaah mau gimana lagi, mereka selalu merendahkanku
karena menyukai seseorang yang bernama Aidan.
“Lo tuh terlalu berharap ngedapetin kak Aidan, kalian tuh bagaikan
bumi dan langit” ucap gadis itu.
“Eh Nya, kalau ngomong di jaga. Ga punya sopan santun yaa? Pantes! Lo tuh cuman adik kelas yang kegatelan.” Audy terkekeh.
“Udah Dy, tidak ada satu pun kata yang salah dari ucapan Vanya. Aku memang hanya membuat kak Aidan jijik dengan kelakuanku” Aku sedikit menahan air mataku
“Tuh kan dia aja ngakuin!” Vanya tersenyum geli.
‘Brukkkkkk’
Tiba-tiba kepala Vanya terkena lemparan bola basket. Vanya pun sempoyongan dan kini ia terjatuh dan
pingsan.
“Mampus!” Audy terkekeh.
“Kamu ga boleh gitu Dy” aku menasehatinya.
“Tau ga sih Le? Kamu itu seperti
bidadari, tidak hanya parasmu aja yang cantik namun hatimu juga bersih. Jika semua orang bilang kamu salah mencintai kak Aidan, maka kamu memutuskan untuk
dirinya bahwa kamu tidak mau menjadi benar, dan kamu akan tetap menjaga perasaanmu pada kak Aidan. Jadi, aku biarkan kamu menjadi
orang yang salah Le.”
***
Tak ada yang mengerti. Mereka hanya menyalahkan dan mereka senang
jika aku
kalah. Kenapa aku tidak boleh mencintainya? Bukankah tuhan sudah berkehendak? Setelah
acara itu selesai, aku memantapkan hatinya untuk berbicara pada kak Aidan saat ia sedan
sendiri.
“Kak Aidan?” Itulah kata yang keluar dari bibirku.
Mengapa berbicara dengan kak Aidan menjadi sesulit ini?
“Kenapa?” kak Aidan menengok.
Ada banyak kata yang aku ingin katakan, banyak sekali. Tetapi kenapa diriku di hadapan kak Aidan menjadi kaku? Bibirku seakan terkunci. Aku tidak bisa berbicara, air mataku mulai menetes. Aku menangis?? Tidak!! Aku tidak menangis. Aku hanya bingung
bagaimana cara menjelaskan apa yang ingin aku katakan padanya.
“Bodoh. Kenapa aku menangis?? Seharusnya sekarang aku berbicara
padanya, mengungkapkan isi hatiku padanya. Aku memang bodoh. Aku pecundang” umpatku pada dirinya sendiri.
“Nangis engga ada untungnya lagi.” kata kak Aidan seraya menghapus air mataku.
Aku bingung dengan
pemikirannya. Kenapa ia begitu baik padaku? Pikirku. Dari banyak hal yang kuingin sampaikan padanya,
aku rangkum
menjadi satu kata. Yaitu kata “Maaf”. Tulus dari dalam hatiku. Aku memohon maaf padanya
karena telah mencintainya. “Maaf kak.
Pasti kakak marah padaku.” Ucapku lirih.
“Aku engga marah sama kamu dan seharusnya aku yang
meminta maaf.” Dia tersenyum padaku, senyum sangat tulus. Tentu aku sangat
bingung, mengapa ia meminta maaf padaku? Seakan bisa membaca pikiran, kak Aidan
langsung melanjutkan kalimatnya.
“Aku tahu kamu menyukaiku tapi aku selalu berlagak
ga kenal dengan kamu, mengabaikan perasaanmu karena aku ga bisa membalas
cintamu itu. Aku tahu kau mengejar-ngejarku sejak aku membantumu yang terjatuh,
menggendongmu dan membawamu pulang. Nama kamu Azalea Meldiva. Aku tahu kamu banyak
berkorban karena aku dan sekarang aku mau minta kamu berhenti mengejarku,
mengejar harapanmu yang tak akan mungkin bisa terjadi.” Aku makin menangis
mendengar perkataannya, aku mengerti apa yang di maksud dan aku sangat mengerti
akan hal itu.
“Tapi aku mencintaimu.” Kata itu lolos dari
bibirku, suara yang sangat menyedihkan dan siapapun yang mendengarnya akan
merasakan iba.
“Aku tahu tapi aku tak bisa Lea. Aku tak akan
membiarkanmu mencintaiku. Aku tahu karena mencintaiku kamu kehilangan banyak
hal. Aku dan kamu berbeda dua tahun dan kamu bisa mengejarku hingga kita lulus
bersamaan. Kamu mengambil program akselerasi dua kali dan kamu kehilangan masa
remajamu. Aku sangat merasa berdosa membiarkanmu dan kali ini berhentilah
mencintaiku karena aku tak mencintaimu Lea.” Kak Aidan mengatakannya tanpa
memikirkan perasaanku dan itu membuatku jauh lebih sakit ketika dia
mengacuhkanku.
“Lea, kamu harus meneruskan kuliahmu ke Inggris.
Aku tahu kamu dapat undangan beserta beasiswa kan? Kamu jangan mengikuti
langkahku dengan berkuliah di sini. Ikutilah mimpimu Le.” Dia berkata lagi? Dia
tahu aku mencintainya dan dia hanya menyuruhku berhenti mencintainya? Apakah
ada yang lebih menyakitkan daripada ini?
“Mimpiku itu kamu bodoh! Mengapa? Mengapa kamu
tega membohongiku selama 7 tahun? Selama itu aku hanya mengira kamu lupa
denganku. Gadis kecil yang kau bantu dan seperti anak bebek aku hanya
mengikutimu! Tanpa arah! Aku kira kamu benar-benar tak mengenalku!” Aku
menangis, semua bebanku seakan terangkat sekaligus mimpi dan harapan yang ku
bangun, hancur seketika. Kak Aidan hanya terdiam, terpaku dengan ucapanku.
“Maaf. Maafkan aku.” Dia menatapku dengan perasaan
yang tak bisa ku artikan. Dia pergi meninggalkanku, sendiri dengan tangisku.
Aku hanya bisa terjatuh menangis sendirian. Dia cinta pertamaku dan dia yang
pertama kali membuatku patah hati. Sakit yang kurasakan tak pernah ku rasakan
selama ini. Hanya dengan beberapa perkataan, kak Aidan mampu menjatuhkanku ke
dasar palung terdalam. Merasa sendirian dan tak di inginkan. Semenjak hari itu
aku memutuskan untuk pergi dari kenangan pahitku. Satu hari yang merubah
segalanya. Aku mengambil tawaran berkuliah di Inggris dan setelah hari itu
semuanya berubah. Aku tak pernah melihatnya lagi dan aku akan melupakannya.
Cinta pertamaku yang membuatku retak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar